Pernah dengar Hari Tanpa Belanja? Lebih dari 30 negara merayakan Hari Tanpa Belanja (HTB) atau Buy Nothing Day setiap tahunnya. Di Indonesia, HTB diperingati setiap 26 November. Namun tidak semua negara merayakan di tanggal yang sama. Misalnya saja di Kanada dan Amerika Serikat, Buy Nothing Day diperingati sesudah hari Thanksgiving. Adapula yang memilih tanggal ketika banyak orang menghabiskan waktu untuk belanja. Pada HTB ini diharapkan banyak orang menahan diri untuk tidak berbelanja selama 24 jam.

Apa Tujuan Hari Tanpa Belanja?

HTB dipromosikan pertama kali pada tahun 1993 oleh Majalah Adbusters. Majalah ini dimiliki oleh sebuah organisasi nirlaba yang beroperasi di Kanada, Adbusters Media Foundation. Ide unik Buy Nothing Day sendiri dicetuskan oleh Ted Dave, seorang seniman asal Vancouver, Kanada.

Majalah Adbusters merupakan salah satu majalah di dunia yang tidak menerima dana dari iklan baik melalui media cetak maupun online, tidak menerima sponsor dari perusahaan, pemerintah atau yayasan. Majalah Adbusters sepenuhnya menerima dana dari para pembacanya yang kemudian digunakan untuk operasional majalah dan kampanye-kampanye mereka yang menyuarakan kebenaran.

Bukan tanpa tujuan, HTB diperingati untuk meningkatkan kesadaran konsumen untuk memikirkan dengan matang sebelum berbelanja. Konsumen diharapkan lebih peka terhadap benda yang ingin dibeli, produsen pembuatnya dan efek pembelian terhadap lingkungan sekitarnya.

Ancaman perilaku konsumtif, berbelanja berlebihan di luar batas kebutuhan adalah ancaman nyata yang tak boleh dianggap remeh. Terlebih di masa pandemi Covid-19, perilaku konsumtif cenderung mengalami peningkatan akibat ketentuan Work from Home dan penutupan sejumlah fasilitas umum seperti sekolah dan rumah ibadah. Belanja online menjadi salah satu aktivitas hiburan yang bisa dilakukan dari rumah.

source: unsplash.com/ freestocks

Apa yang Dimaksud Perilaku Konsumtif?

Konsumsi dimulai sejak seseorang berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Seseorang yang membeli barang atau jasa berarti membeli fungsi barang atau jasa tersebut. Fungsi sesungguhnya dari barang dan jasa yang dikonsumsi sehari-hari terletak pada fungsi kegunaannya.

Seiring perkembangan zaman, terjadi pergeseran di masyarakat. Saat ini banyak orang terdorong membeli barang atau jasa bukan lagi mengutamakan fungsinya, melainkan karena alasan lainnya. Contohnya saja demi status sosial, menunjukkan keberhasilan, menampilkan diri sebagai orang pertama yang memiliki produk atau jasa tertentu dan motif lainnya.

Jika disimpulkan definisinya, maka konsumerisme mengandung makna sebagai perilaku manusia yang memperoleh sesuatu (barang/jasa) dengan cepat namun dengan kepuasan yang bertahan sebentar saja sehingga sesuatu tersebut segera pula dibuang atau atau tak lagi digunakan.

Perilaku ini bisa menyebabkan ekstasi. Saat mencapai titik tertentu, seseorang akan kehilangan makna dan tampil sebagai pribadi yang hampa. Mereka yang memiliki jiwa konsumerisme lantas disebut sebagai orang yang konsumeris.

Apa Saja Efek Negatif Perilaku Konsumtif?

Tak dipungkiri, kegiatan jual beli telah menggerakkan perekonomian. Terlebih di masa pandemi Covid-19 dengan pembatasan-pembatasan beraktivitas yang cukup ketat. Saat banyak kegiatan usaha yang nyaris tak bergerak, kegiatan jual beli secara online meningkat pesat dan mempertahankan roda perekonomian tetap berjalan.

Namun perlu diingat bahwa perilaku konsumtif adalah salah satu bentuk perilaku konsumsi yang tidak normal. Karena itu perlu dikurangi atau dihindari terlebih bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial biasa-biasa saja. Lantas apa saja efek negatif perilaku konsumtif?

• Terjebak utang

Dulu, perilaku konsumtif masih dibatasi oleh penghasilan. Ketika penghasilan habis, maka secara otomatis perilaku konsumtif terhenti. Namun saat muncul layanan kredit, maka perilaku konsumtif tak lagi terkendali. Para pelakunya kemudian terjebak dalam jerat cicilan-cicilan belanja.

Ditambah lagi dengan munculnya layanan pinjaman online. Para pelaku konsumtif pun terjebak dalam hutang tanpa mempedulikan lagi besarnya bunga pinjaman yang mencekik. Mereka biasanya terjebak pula dalam gaya hidup materialistis dan hedonisme sehingga menjalankan semua cara demi mendapatkan uang, termasuk berhutang.

• Tidak memikirkan masa depan

Perilaku konsumtif membuat orang lupa menabung sehingga tak memiliki investasi yang cukup untuk berinvestasi. Tentu saja hal ini membahayakan diri sendiri di masa depan. Misalnya saja jika sakit tak memiliki uang yang cukup untuk berobat, tak punya tabungan untuk membeli rumah atau sekedar membayar biaya sewa rumah.

• Degradasi dan polusi lingkungan

Sebuah penelitian bertajuk “The Effect of Consumerism on the Environment” yang dilakukan Menezes Chilongo tahun 2010 mendapati dua dampak perilaku konsumerisme pada lingkungan yakni degradasi dan polusi lingkungan.

Konsumsi tinggi yang ditandai dengan pembelian yang meningkat pastinya diikuti pula dengan laju produksi yang tinggi. Eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran pun tak terhindarkan demi memenuhi kebutuhan produksi yang tinggi. Tingkat produksi yang tinggi tentu saja menimbulkan polusi pada udara, air dan tanah. Kerusakan lingkungan pun tak terelakkan.

• Prostitusi

Remaja termasuk golongan yang rentan terpengaruh perilaku konsumtif. Banyak remaja yang merasa malu dan merasa dikucilkan jika tak memiliki barang-barang bermerek. Khususnya para remaja puteri, lebih banyak menghabiskan uangnya untuk keperluan penampilan mulai dari pakaian hingga kosmetik.

Jika uang saku tak cukup, uang sekolah pun lantas disalahgunakan untuk berbelanja. Pada kondisi yang lebih buruk, perilaku konsumtif para remaja menjerumuskan mereka ke prostitusi. Berada jauh dari orang tua selama menempuh pendidikan membuat para remaja semakin leluasa masuk ke lembah prostitusi demi memenuhi tuntutan gaya hidup.

Apa Saja Kegiatan Hari Tanpa Belanja?

Para aktivis di berbagai negara yang mendukung Hari Tanpa Belanja melakukan berbagai kegiatan untuk membangkitkan kesadaran tentang konsumerisme. Beberapa kegiatan Buy Nothing Day antara lain:

• Memotong kartu kredit

Memotong kartu kredit di pusat-pusat perbelanjaan dilakukan para aktivis sebagai bentuk bantuan bagi mereka yang ingin mengakhiri utang yang menumpuk dan bunga kredit yang tinggi. Memotong kartu kredit agar tak bisa digunakan lagi menjadi cara simple untuk mengakhiri jeratan utang dan mengubah perilaku konsumtif.

• Berkeliling tanpa berbelanja

Sejumlah aktivis lainnya di negara berbeda datang ke pusat-pusat perbelanjaan sambil mendorong keranjang belanja. Tapi sesungguhnya mereka sama sekali tak membeli apapun.

• Mematikan semua perangkat elektronik

Selain tak berbelanja, sebagian aktivis memilih untuk mematikan perangkat elektronik mereka seperti televisi, komputer, ponsel, lampu dan tidak menggunakan mobil untuk bepergian .

• Mengumpulkan mantel musim dingin

Di negara-negara empat musim, para aktivis mengumpulkan mantel selama satu bulan menjelang But Nothing Day. Nantinya mereka yang membutuhkan mantel musim dingin bisa menukar dengan benda lain atau mengambilnya.

Hari Tanpa Belanja VS Festival Belanja Online

HTB atau Buy Nothing Day yang diperingati setahun sekali nyaris tak terdengar gaungnya jika dibanding dengan sederet festival belanja online. Festival ini digelar lebih dari sekali dalam setahun dan menjadi gelaran yang ditunggu-tunggu para pecandu belanja dan pemburu diskon. Lalu kapan saja festival belanja online digelar? Berikut ini 7 festival belanja online yang mendorong minat belanja!

1. Black Friday

Black Friday jatuh pada setiap Jumat terakhir pada bulan November. Tahun ini, Black Friday jatuh pada 26 November 2021. Pada hari yang disebut Black Friday, e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Lazada, Blibli dan sederet e-commerce lainnya menawarkan promo dan diskon besar-besaran.

Budaya Black Friday sesungguhnya sudah berusia cukup tua. Digelar sejak tahun 1952 di Amerika Serikat, Black Friday jatuh sehari setelah hari Thanksgiving dan dianggap sebagai awal musim belanja. Bagi para pedagang, selama bertahun-tahun, Black Friday menjadi hari yang menyenangkan.

Namun di sisi lain, Black Friday menunjukkan sisi gelap konsumerisme di berbagai belahan dunia. Sebelum pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19 diberlakukan, Black Friday telah memakan banyak korban luka dan meninggal di berbagai pusat perbelanjaan akibat aksi kekerasan saat berebut demi mendapatkan barang dengan diskon yang menggiurkan.

source: Unsplash.com/CardMapr

2. Harbolnas

Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) pertama kali digelar pada 12 Desember 2012 atau dikenal dengan sebutan 121212. Harbolnas dicetuskan oleh 6 e-commerce raksasa di Indonesia yakni Bukalapak, Lazada Indonesia, Blanja, PinkEmma, Zalora dan Berrybenka. Sejak saat itulah, Harbolnas digelar setiap tanggal 12 pada bulan Desember setiap tahun.

Keberhasilan Harbolnas menuai keuntungan mendorong sejumlah e-commerce menggunakan tanggal dan bulan ganda untuk menggelar diskon besar-besaran seperti Harbolnas. Misalnya saja festival 9.9 di Bulan September atau festival 10.10 di Bulan Oktober. Tujuannya tentu saja untuk menarik minat berbelanja.

3. ASEAN Online Sale Day

ASEAN Online Sale Day diselenggarakan oleh ACCEC (ASEAN Coordinating Committee on Electronic Commerce) secara serentak di 10 negara ASEAN. ASEAN Online Sale Day rencananya digelar setiap tahun. Di tahun 2021, even belanja online ini diadakan pada 8-10 Agustus 2021 yang melibatkan ratusan UMKM dan pedagang online.

4. Online Revolution

Seperti halnya Harbolnas, Online Revolution digelar pertama kali pada tahun 2012. Kali ini e-commerce Lazada Indonesia menjadi pelopornya. Online Revolution yang diadakan setiap 11 November ini melibatkan lebih dari 10.000 merk lokal dan internasional serta UKM.

5. Midnight Sale

Brand-brand dan pusat perbelanjaan kerap mengadakan Midnight Sale. Tak ada waktu khusus, Midnight Sale bisa diadakan setiap saat dengan promo yang gencar sebelumnya. Tetapi sebagian besar brand dan pusat perbelanjaan menggelar Midnight Sale menjelang Natal dan Tahun Baru. Seperti festival belanja lainnya, Midnight Sale juga menawarkan potongan harga yang menggiurkan.

6. Flash Sale

Flash sale lebih dikenal di dunia e-commerce. Flash Sale adalah sistem berjualan yang menawarkan harga rendah atau diskon dalam waktu tertentu saja. Biasanya durasinya berlangsung singkat dengan jumlah produk yang terbatas. Misalnya Flash Sale berlangsung selama 2 jam saja dengan jumlah 100 pcs untuk produk yang diikutkan Flash Sale.

7. Festival Belanja Akhir Tahun

Setiap tahun hampir semua brand, online shop dan e-commerce menggelar festival belanja akhir tahun. Berbagai barang ditawarkan dengan diskon yang menggiurkan. Sebelum pembatasan akibat pandemi Covid-19, pusat-pusat perbelanjaan selalu dipenuhi pengunjung bahkan hingga tengah malam. Ketika pandemi Covid-19 berlangsung, festival belanja akhir tahun secara online mendulang banyak keuntungan.

Bagaimana Cara Menghilangkan Perilaku Konsumtif?

Perilaku konsumtif erat dengan hedonisme. Hedonisme yang berasal dari bahasa Yunani “Hedone” mengandung makna pandangan hidup yang menganggap kenikmatan materi dan kesenangan adalah tujuan utama hidup. Perilaku konsumtif dan hedonisme cenderung menghabiskan banyak uang dan waktu untuk kesenangan diri sendiri yang bersifat sementara. Nah, perilaku konsumtif sesungguhnya bisa dihilangkan secara bertahap dengan mengikuti tips menghindari perilaku konsumtif berikut ini:

1. Menentukan prioritas kebutuhan hidup

Buatlah sebuah daftar yang memuat kebutuhan prioritas hidup. Misalnya saja prioritas utama adalah menyelesaikan kuliah atau membeli rumah, atau menabung dengan jumlah yang sudah ditentukan sebagai target. Lantas tanamkan prioritas tersebut dalam pikiran. Saat muncul keinginan untuk berbelanja, segera munculkan prioritas utama. Pertimbangkan apakah benda yang hendak dibeli termasuk dalam daftar prioritas ataukah hanya keinginan semata?

2. Menghilangkan atau meminimalkan pemakaian kartu kredit

Kartu kredit adalah salah satu alat pembayaran. Sayangnya, banyak orang yang memanfaatkannya sebagai alat untuk berhutang melebihi kemampuan bayarnya. Menghentikan penggunaan kartu kredit menjadi langkah yang efektif untuk mengendalikan perilaku konsumtif.

Namun jika belum bisa menghilangkan kartu kredit, setidaknya gunakanlah dengan bijaksana. Manfaatkan promo atau sikon hanya untuk membeli barang-barang yang benar-benar dibutuhkan. Jika berhutang, pastikan hutang maksimal hanyalah 30% dari total penghasilan setiap bulan.

3. Kurangi Window Shopping

Window shopping menjadi salah satu kegiatan favorit mereka yang memiliki perilaku konsumtif. Window shopping sendiri adalah istilah untuk menyebut kegiatan orang-orang yang suka melihat-lihat barang tanpa berniat membelinya.

Window shopping sebenarnya punya manfaat positif. Salah satunya untuk melepas stress. Namun bagi mereka yang berperilaku konsumtif lebih baik tidak melakukan window shopping agar tak terdorong membeli barang yang kurang diperlukan. Gantilah kegiatan window shopping dengan kegiatan lain, misalnya saja nonton film, olahraga, main game dan kegiatan lainnya yang menjauhkan dari keinginan berbelanja.

4. Biasakan menabung

Mereka yang berperilaku konsumtif sangat sulit untuk menabung. Padahal tabungan akan sangat membantu di masa depan terutama untuk kejadian-kejadian yang tak terduga. Menabung juga membantu mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Karena itu, paksa diri sendiri untuk menabung dengan menyisihkan 10% hingga 30% penghasilan per bulan. Simpan dalam rekening yang berbeda agar benar-benar tak tersentuh.

5. Ajukan pertanyaan-pertanyaan sebelum berbelanja

Setiap kali menginginkan suatu barang, cobalah untuk bertanya pada diri sendiri agar pembelian tersebut tidak termasuk perilaku konsumtif. Apakah Anda benar-benar membutuhkan barang tersebut atau sekedar menginginkannya? Apakah Anda punya uang yang cukup untuk membelinya ataukah harus berhutang atau harus menggunakan tabungan masa depan? Seberapa sering Anda akan menggunakannya? Apakah barang tersebut akan meningkatkan kualitas hidup?

6. Mengendapkan keinginan untuk berbelanja

Ketika ingin membeli suatu barang, sebaiknya jangan buru-buru membelinya. Endapkan keinginan tersebut satu atau dua minggu. Apa yang akan terjadi dengan penundaan ini? Apakah hidup menjadi lebih sulit? Jika tak terjadi sesuatu hal selama masa pengendapan tersebut, tunggulah lagi selama beberapa minggu ke depan. Kalau barang tersebut sesungguhnya tak dibutuhkan, maka keinginan untuk membeli pun akan lenyap.